Cetak

Jika Jean Baudrillard masih hidup, mungkin dia akan tersenyum sinis saat melihat penghadangan Neno Warisman di Pekanbaru, Riau. Dunia simulacra yang digagasnya pada awal 1980-an menemukan bukti terbaiknya tadi malam.

“All that is real becomes simulation” kata filsuf Prancis itu dalam magnum opusnya Simulation (1983). Semua yang nyata kini menjadi simulasi.

Baudrillarrd memperkenalkan konsep dunia simulasi. Menurutnya, beragam tampilan bercitra indah dihadirkan di pentas seolah nyata tetapi sejatinya sarat rekayasa. Dalam dunia simulasi semacam ini berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya atau hanya fantasi.

Baudrillard mencontohkan media massa yang menurutnya lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencermirkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri.

Kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan. Di belakang media dan ilmuwan tidak jarang bertahta rezim-rezim penguasa dan pemilik modal besar yang mengendalikan realitas yang direproduksi ke khalayak untuk menciptakan dunia yang seolah sebenarnya tetapi sudah terekayasa.

Dunia simulasi memang rumit, dari luar begitu gemerlap dan sangat perkasa. Dan ia makin tak terkendali di dunia cyber seperti saat ini. Meminjam istilah Anthony Gidden, bagaikan Jeggernout: kereta raksasa yang siap menggilas siapa saja dan apa saja yang berlawanan.

Lalu apa kelindannya dengan penghadangan Neno Warisman?

Ini adalah rezim yang dicitrakan demokratis. Dekat dengan rakyat. Mendengar dan melayani masyarakat. Pemimpinnya kerap blusukan hingga ke sawah dan selokan.

Ini adalah rezim yang pemimpinnya dicitrakan sederhana. Berwajah ndeso. Berbaju murah. Bercelana seperti rakyat kebanyakan. Dan bersepatu kisaran 100 ribuan.

Ini adalah rezim yang dicitrakan dekat dengan ulama dan umat Islam. Menggandeng Ketua Umum MUI sebagai cawapres untuk maju dalam Pilpres 2019. Keluar masuk pesantren. Lalu menjadikan Hari Santri sebagai jualannya.

Ini adalah rezim yang dicitrakan tak punya lawan. Tangguh. Tak tertandingi untuk kembali memimpin. Berbagai lembaga survei mengunggulkannya. Terakhir, LSI Denny JA merilis keunggulan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, jauh di atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ini adalah rezim yang tidak takut dengan gerakan #2019GantiPresiden. Kata pemimpinnya, kaos tak bisa mengganti presiden.

Tapi, ketika tadi malam Neno dihadang dan dipaksa pulang, lalu aparat melarang deklarasi #2019GantiPresiden, semua hal diatas terbukti hanya pencitraan. Tak lebih dari simulacra.

Jika yakin unggul dan menang, mengapa harus menghadang Neno?

Jika tak takut #2019GantiPresiden, mengapa aparat harus melarangnya?

Jika demokratis dan dekat dengan rakyat, mengapa pula harus memaksa pulang seorang wanita?

Begitulah potret sebuah rezim simulacra yang membuat Baudrillard mungkin tersenyum sinis, jika masih hidup.

Salam Ganti Presiden
Erwyn Kurniawan (Penulis dan Jurnalis)

Cetak

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan