persekusi 2019 ganti presiden
Cetak

Membungkam justru semakin mempopulerkan. Itulah hukum keterbalikan. Mempersempit ruang gerak #2019GantiPresiden justru semakin memperluas dukungannya. Namun mengapa cara ini terus saja ada? Apakah untuk menunjukkan kekuasaannya?

Diskusi dan deklarasi #2019GantiPresiden semakin dipersempit ruang geraknya. Neno Warisman selalu dihadang hingga ke tahap persekusi di Bandara sebelum tiba dilokasi deklarasi. Ini terjadi di sejumlah tempat. Siapa yang mau melindunginya?

Sejumlah diskusi tidak diberikan ijin seperti di Babel dan Jawa Timur. Alasannya, memicu ketegangan yang sudah kondusif. Penomena ini bisa jadi sebuah persekusi terhadap sebuah gerakan.

Padahal bila melihat hasil Pilpres 2014 yang justru lebih menegangkan pun, kondisi masyarakat tetap teduh dan tidak ada perpecahan. Karena budaya Indonesia memang bertoleransi. Fakta perpolitikan yang paling keras pun tak pernah menimbulkan konflik sosial. Yang penting jangan ada rekayasa.

Di era setiap orang bisa membuat berita, mengekang “fisik” sebuah gerakan sangat tidak efektif. Sebuah gerakan massa dilawan dengan gerakan massa bukan pengekangan kiprah. Dari gerakan massa, bisa diketahui dukungan masyarakat dan jargon-jargonya.

Gerakan intelektual dilawan dengan gerakan intelektual pula. Opini dilawan opini juga. Pemikiran dilawan pemikiran. Jangan mengarah pada pertarungan dan pengekangan fisik sebagai bentuk kekalahan intelektualitas.

Tema-tema yang diangkat oleh #2019GantiPresiden pun lebih sering mengarah pada kinerja pemerintah, kondisi ekonom dan sosial. Ini sebuah langkap mengungkapkan fakta bukan judgment terhadap sebuah kondisi.

Kehadiran beberapa tokoh keagamaan dalam gerakan ini bukanlah sebuah sara tetapi mempertimbangkan cukup refresifnya pemerintah pada ulama dengan perancangan kasus dan penangkapan. Padahal yang diperjuangkan bukanlah ideologi yang dilarang oleh negara. Ideologi yang dilarang oleh undang-undang justru tumbuh subur tanpa ada pelarangan.

Gerakan #2019GantiPresiden bukanlah gerakan elit dan tokoh. Faktanya, saat deklarasi awal di kegiatan cara free day Jakarta, tanpa tokoh yang hadir pun masyarakat hadir sangat antusias. Penjualan souvenir, penyebaran hastag yang massif dan sukarelanya massa yang hadir, ini spontanitas respon masyarakat terhadap kondisi negara. Ini gerakan keprihatinan terhadap pengelolaan negara yang salah urus.

Kekuatan #2019GantiPresiden bukanlah pada kekuatan tokohnya. Tetapi pada kondisi kesulitan masyarakat. Adakah tokoh hebat yang membackupnya?  Apabila disurvei untuk jadi presiden dan wakilnya pun pasti tidak lolos dalam perhitungan lembaga survei dan kalkulasi politik para elit. Ini adalah respon kepedulian untuk merubah wajah bangsa.

Persekusi terhadap #2019GantiPresiden adalah wajah asli perpolitikan kita. Saat gerakan tak bisa hentikan maka gerakan otot dan kekuatan aparat yang digerakan untuk menghentikannya.

Cetak

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan