bisma gugur
Cetak

BISMA benar benar tiada lawan. Sudah tak terhitung wayang dari berbagai versi tewas menghadapinya. Ini tentu tidak boleh dibiarkan. Harus ada terobosan baru. Oleh karena itu Sri Kresna segera memikirkan sebuah siasat.

Salah seorang Pandawa disuruh datang ke kemah sang resi untuk menanyakan apa kelemahannya. Sebuah siasat cerdik. Yang beda tipis dengan licik. Kaerna memang antara licik dan cerdik itu tergantung dari sisi mana memandang. Mirip hoax. Jika dari kelompokku bukan hoax. Jika kelompokmu hoax. Gitu kan. Bahkan ada orang yang merasa bahwa saat ini kondisi aman aman saja…tenteram dan damai. Itu masalah persepsi.

Pandawa datang langsung to the point bertanya. Apa kelemahan eyang. Tidak sekali kali menanyakan kenapa kok panjenengan resi ikut Kurawa. Itu tidak penting. Karena ini masalah hati. Kepada manusia milenial yang masih haus 3-ta saja kita tidak selayaknya menanyakan. Apalagi kepada sang resi yang sudah lulus godaan 3-ta.

Banyak orang sekarang mencari cari kelemahan Bisma yang lain. Ngorek orek lah. Yang dibilang Bisma egois, Bisma itu ambisius bahkan seoarng teman Salafi mengatakan Bisma itu nggak sesuai sunnah Rasul karena bersumpah wadag (unmarried forever). Weleh…yo ojo ngunu. Itu namanya mencari cari kesalahan orang karena perbedaan pandangan politik. Nggak patut. Menurut pendapat saya yang membuat mengganjal di hati adalah kenapa kok berperang pada posisi kurawa. Sedangkan dia tidak mendapat potangan budi apapun dari Kurawa. Tapi itu adalah rahasia pribadi sang resi.

Saya meninggal ketika diserang oleh wayang wanita. Kata sang resi mantap. Saya tidak akan menangkis. Tidak akan mengeluarkan ajian sakti apapun. Maka kalian pulanglah.
Apakah ini karena rasa berdosa kepada Dewi Ambar… Eh salah Dewi Amba….? Entah kenapa kalau nulis Amba selalu muncul autocorrect Ambar.

Permasalahan muncul karena dalam acara perang itu tidak melibatkan wanita. Terus sopo atene mateni Bisma? Saat itu memang sangat bias gender. Wanita nggak boleh ikut perang. Cukup di rumah berdoa. Tapi itu bukan berarti karena mengambil nilai wayang ini sehingga saya sering mengkritik ahwat keluar demo walaupun sambil membawa panji Rasulullah. Apalagi jika ahwatnya cantik. Maksudku mbok ihwannya saja.

Keesokan harinya perang dimulai lagi. Sri Kresna memerintahkan Srikandi untuk maju. Semua pihak heran. Karena Srikandi itu wayang yang termasuk tidak masuk rating. Oya jangan bayangkan Srikandi itu cantik jelita dan menenteng panah kayak di iklan2 itu lho. Dalam perang itu Srikandi menyamar jadi laki laki. Nama perangnya Sukendar atau siapa. Nggak jelas. Yang tahu cuma Kresna. Tapi saya menduga Arjuna juga tahu. Sebab wayang ini nempel terus sama Srikandi. Bahkan Arjuna ini mengiringi Srikandi terus sampai akhirnya bisa mendekat ke resi Bisma. It is not easy man. Sebagai ujung tombak sang resi pasti dikelilingi para jawara.

Sang resi melihat Srikandi. Tiba tiba pandangannya nanar. Wajah Dewi AMBA ada di wajah Srikandi. Tersenyum manis. Sambil membawa bunga cinta yang tidak pernah layu dibawanya sejak dulu. Semenjak dia kuliah semester 7. Antara cinta dan benci larut menjadi satu. Dan dalam pandangannya seolah sang Dewi membawa baliho bertuliskan: Mas Bis…..tak tunggu di swarga loka. Alamak romantisnya.

Segera tarik busur panahmu Srikandi. Arahkan ke dadaku. Karena saya tahu kaulah wanita yang mengalahkanku.
Srikandi tersipu. Rupanya penyamarannya terbongkar. Antara ragu dan tak percaya ditariknya gandewa panah. Dan jlebbb…anak panah itu menghunjam tubuh Bisma. Tak tertahan. Tak terlindung. Segera disusul panah panah berikutnya sehingga diceritakan tubuhnya tak menyentuh bumi tapi tertahan anak panah. (Waktu sibu menceritakan ini padaku saya susah membayangkan untung tadi dibantu ilustrasi di wiki).

Kahyangan berduka. Para bidadari menebarkan bunga bunga wangi mengiring jasad sang resi. Peperangan seketika berhenti. Semua menghormat eyang Resi. Tapi anehnya sang resi tidak juga mati. Barulah semua tahu ternyata sang resi bisa mengontrol kematiannya. Menunggu hari baik dan waktu baik ruhnya terbang ke swargaloka. (Khusus yang ini teman2 salafi jangan membully saya ya. Bukannya saya percaya khurafat lho)

Bisma gugur. Esok harinya peperangan dialihkan ke tempat lain karena menghargai jasad sang resi yang menunggu pralaya. Dan satu pertanyaan yang tak pernah bisa saya fahami jawabnya adalah…

Kenapa sang resi membela Kurawa.

Akehuda, 20 September

Cetak

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan