ANTARA PBR, PMB DAN GARBI

Garbi
Cetak

Kawan- kawan GARBI yang getol menggembosi PKS, berkacalah juga pada cermin yang dekat. Jangan hanya berkaca pada cermin yang jauh. Berkacalah juga pada PBR dan PMB di sini, dan jangan hanya berkaca pada AKP di Turki saja.

Partai Bintang Reformasi (PBR)

PBR adalah sempalan PPP yang dideklarasIkan 20 Januari 2002, yg ditandai engan exodusnya Bursah Zarnubi, KH Zainuddin MZ, Zaenal Maarif, Djafar Badjeber dll dari PPP. Semula bernama PPP Reformasi.

PBR mendapat kawan dari penggabungan Partai Indonesia Baru, Partai Ummat Muslimin Indonesia, Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, dan Partai Republik. Bahkan Yusuf Lakaseng dari PRD juga bergabung ke PBR.

Warna bendera dan atributnya hijau muda, mengingatkan pada warna kesayangan Andre Agassi, pemain tennis keturunan Iran yang nyentrik pada zamannya. Warna hijau muda itu terkesan lebih menarik dibanding warna hijau tua milik P3.

PBR didukung puluhan LSM, ormas, ulama, dan para aktifis. Bahkan Dita Indah Sari yang dikenal sebagai aktifis PRD juga jadi caleg PBR namun gagal masuk Senayan. Pada tahun 2004 PBR punya 14 kursi di DPR. Sementara itu PPP masih bertahan dengan 57 kursi DPR.

Pada Pilpres 2004 Zainuddin MZ pernah masuk bursa capres namun gagal diusung.

Di usianya yang baru di PBR diwarnai beberapa konflik internal yang menyebabkan beberapa tokohnya mundur. Termasuk Zaenal Maarif yang loncat ke Partai Demokrat pada 2009 setelah berpolemik soal skandal perkawinan SBY.

Pada Pemilu 2009 PBR hanya mempeoleh 1,21% suara, dan harus bubar karena tidak lolos ET. Sementara PPP masih mendapat 5,32% dan lolos ET.

Tak lama kemudian Zainuddi MZ mundur dari politik namun sempat kembali ke PPP diajak oleh Surya Darma Ali, sebelum meninggal pada 2011.

Di akhir episode politiknya Bursah Zarnubi mengadu nasib ikut Pilkada 2018 di tanah kelahirannya di Kabupaten Lahat Sumsel dengan dukungan dari Golkar, PKB dan PAN, namun kandas setelah kalah dengan putusan MK.

Partai Matahari Bangsa (PMB)

PMB didirikan 16 Desember 2006 oleh Imam Addaruqutni (Ex Ketum Pemuda Muhammadiyah), Ahmad Rofik (Ex Ketum IMM), Djoko Edi Abdurrahman (Ex Aleg PAN) dll. Pada 2008 mengusulan Din Syamsudin sebagai capres pada Pemilu 2009 namun kandas.

PMB banyak dianggap sebagai partai alternatifnya Muhammadiyah setelah PAN tidak sejalan lagi dengan Muhammadiyah.

PMB bisa dianggap sebagai sempalan PAN. Meskipun banyak berebut suara dengan PAN di basis Muhammadiyah, PAN menganggap PMB bukanlah ancaman serius.

Nyatanya nasib PMB berakhir pada Pemilu 2009 dengan perolehan 0,4% suara, dan tidak lolos ET.

Pada Pemilu 2014 PMB menyatakan melebur ke PAN.

Belakangan Ahmad Rofiq Sekjen PMB merapat ke Surya Paloh dan turut membidani lahirnya Partai Nasdem. Pasca hengkangnya Harry Tanoe dari Nasdem dia memllih bergabung ke Partai Perindo.

GARBI

Kawan-kawan di GARBI belajarlah juga pada kegagalan PBR dan PMB. Kalian mungkin akan dengan mudah exodus dari PKS, deklarasi ormas, deklarasi partai baru dan ikut pemilu 2024.

Kurang apa PBR? Satu2nya partai yang pake nama reformasi! Euforia reformasi 98 masih hangat2nya. Tokoh2nya juga level atas. Apakah Zainuddin MZ Dai Sejuta Ummat masih kurang populer pada masa itu? Tapi nggak bisa ngangkat suara juga. Kurang inklusif apa sampai memasukkan tokoh2 PRD ke dalam PBR.

PMB juga demikian. Seluruh modal politiknya tak bisa menggerus basis suara saudara tuanya, PAN.

Kalaupun kalian belajar dari kesuksesan AKP semoga kalian tidak melupakan aklimatisasi alias menyesuaikan dengan iklim politik di sini. Dan AKP juga pasti melewati liku2 perjuangan yang tidak sederhana.

Politik di tanah tropis ini amatlah kejam, sekejam belantara hutan tropis yang penuh buah beracun, binatang buas, cuaca ekstrem dan kontur alam yang labil.

Kalian butuh lebih dari sekedar obat kekecewaan dan kanalisasi narasi. Kalian butuh lebh dari sekedar baju baru dan GPS baru. Kalian butuh ribuaan sekoci buat jaga2 kalau kandas bernasib sama seperti seperti PBR dan PMB.

Cetak

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan