Kisah di Balik Masjid Pertama Kota Peru, Lima: “Kita Telah Menjualnya Kepada Allah”

Link Banner

“Kita telah menjualnya kepada Allah”

Kalimatini diucapkan oleh seorang pengusaha asal Palestina yang mukim di Lima, Peru, yang bernama: Muthiy’ ‘Athallah Faris -Rahimahullah-. Kalimat ini beliau sampaikan ke isteri beliau ketika beliau menyumbangkan istana beliau yang megah yang beliau tempati bersama keluarga. Istana megah itulah yang menjadi masjid pertama di Lima, Peru, Amerika Selatan.

Bagaimana kisah masjid itu?.
Apa peran sang pengusaha yang dermawan ini?.
Siapa yang berada di balik wakaf raksasa ini?.

Saya mendengarkan kisah masjid ini dengan sanad yang bersambung, dari dua tokoh sebagai saksi utama yang telah menjadi perantara yang diberkahi oleh Allah untuk terwujudnya masjid megah ini.

Kedua tokoh itu ialah:

1. Asy-Syaikh Ahmad Ash-Shayfi, Direktur Markaz Da’wah di Brasil.
2. Al-Ustadz Dhamiyn ‘Awadh, Pimpinan Al-Jam’iyah Al-Islamiyah di Peru.

Ikutilah kisah indah berikut ini.

Sampai Tahun 1988, belum ada satupun masjid di Negara Peru. Kaum muslimin di sana tidak shalat berjamaah, kecuali di beberapa rumah, yang mendisiplinkan anggota keluarganya untuk shalat berjamaah di rumah; bahkan tidak ada tempat untuk mereka shalat Jum’at. Kaum muslimin di sana secara umum tidak shalat Jum’at.

Ibadah shaum pada bulan Ramadhan di sana pada waktu itu, hanya diamalkan oleh orang orang tua.

Kondisi keislaman kaum muslimin saat itu di Peru, memang sangat menyedihkan, karena tidak hanya tidak ada masjid, tidak ada pemakaman khusus untuk ummat Islam, pengamalan keislaman yang sangat rendah, tapi sampai pada banyaknya ummat Islam yang murtad, terutama para remaja, menjadi pengikut agama kristen!!.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memuliakan orang orang tertentu dengan menjadi pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Ali Ash-Shaifiy, seorang da’i petualang, senang berkeliling dunia. Beliau punya kebiasaan unik dan menarik pada setiap kali berada di satu negara, beliau bergegas untuk membuka buka lembaran BUKU TELEPON (Yellow Pages), lalu beliau mencari nama nama yang diyakini sebagai muslim, atau Arab. Beliau mencatat nomor nomor telepon mereka, lalu menghubungi mereka satu persatu dan meminta untuk bersilaturrahim. Demikianlah beliau selalu memulai da’wah beliau.

Beliau ke Peru pada Tahun 1988. Dengan berbekal Buku Telepon, dengan cepat beliau bertemu dengan orang orang Palestina yang mukim di sana. Beliau bertanya tentang masjid. Mereka menjawab bahwa di sini tidak ada masjid. Beliau langsung saja memotivasi mereka untuk membangun masjid, atau menyewa rumah untuk dijadikan sebagai masjid. Beliau bertanya tentang biaya sewa apartement yang cocok dijadikan sebagai masjid. Mereka menjawab: Sekitar 1500 USD per bulan. Asy-Syaikh Ash-Shaifiy langsung memulai pengumpulan dana untuk itu. Beliau mengeluarkan uang dari saku beliau sebagai penyumbang pertama sebesar 500 USD.

Pada pertemuan itu terkumpul dana yang cukup besar, karena yang hadir di situ benar benar sangat termotivasi. Sampai ada di antara mereka yang mengusulkan agar mereka tidak hanya menyewa apartement untuk jadi masjid, tapi sebaiknya membeli apartement untuk jadi masjid.

Mendengar dan menyetujui hal itu, Asy-Syaikh Ash-Shaifiy menyumbang lagi sebesar 5000 USD, sepuluh kali lipat dari sumbangan beliau yang pertama. Akhirnya pada pertemuan itu terkumpul dana sebesar 60.000 USD.

Pertemuan yang berujung penggalangan dana itu tidak dihadiri oleh tokoh pengusaha muslim terkenal di Peru, yang sehari hari dipanggil: Om ‘Athallah, bernama lengkap: Muthiy’ ‘Athallah Faris, berasal dari Palestina, sudah berada di Peru sejak tahun 1920.

Setelah pertemuan dan penggalangan dana untuk pembangunan masjid, Asy-Syaikh Ash-Shaifiy bersama beberapa tokoh muslim bersilaturrahim ke rumah Om ‘Athallah. Setelah mereka menyampaikan rencana dan gerakan mereka untuk membeli apartement untuk jadi masjid, Om ‘Athallah menawarkan rumah beliau untuk dicicil dan dijadikan masjid.

Rumah beliau yang beliau tempati itu bisa disebut istana, karena besar dan mewah. Beliau minta agar mereka ke kantornya besok pagi dengan menyerahkan uang yang telah terkumpul.

Esok paginya mereka berkumpul lagi di kantor Om ‘Athallah; dan diserahkanlah uang sebesar 60.000 USD kepada beliau. Setelah beliau menerima uang itu, beliau mengatakan: “Saya terima uang ini, untuk kita bersama sama membeli tanah untuk pemakaman kaum muslimin. Adapun untuk masjid, maka rumah beserta halamannya, saya wakafkan untuk dijadikan sebagai masjid”. Allahu Akbar.

Mereka semua kagum atas pernyataan Om ‘Athallah, bahkan ada yang seakan tak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Karena istana itu sangat megah dan mewah. Akhirnya selesailah pertemuan itu dengan ucapan terima kasih dan do’a do’a kebaikan yang berulang ulang kepada Om ‘Athallah.

Selanjutnya Asy-Syaikh Ash-Shaifiy diundang khusus oleh Om ‘Athallah ke rumah beliau untuk makan siang.

Ketika beliau masuk ke rumah beliau bersama tamunya, Om ‘Athallah berteriak dengan suara keras: “Hai Ummu Faris, kita telah menjual rumah ini. Kita harus serahkan rumah ini secepatnya kepada pembelinya”.

Isteri beliau bergegas ke ruang tamu dengan sangat heran mengatakan: “Apa?. Kamu sudah jual rumah kita?”. “Kamu jual kepada siapa?”. “Saya merasa sangat berat meninggalkan rumah ini”.

Om ‘Athallah menjawab: “Hai Ummu Faris, kita sudah jual rumah ini kepada Allah”.
Maka Ummu Faris tersenyum kemudian menutup wajah beliau dengan kedua telapak tangan beliau lalu menangis bahagia. Om ‘Athallah dan Asy-Syaikh Ash-Shaifiy pun turut menangis terharu, bahagia.

Sejak hari itu, istana megah itu resmi menjadi masjid sampai sekarang. Masjid itu makmur bukan hanya dengan shalat Jum’at, tapi juga shalat lima waktu, shalat Idul Fitri dan Idul Adha, kegiatan da’wah dan pendidikan Islam, pengajaran Al-Qur’an, pusat da’wah Islam di Lima, Peru, Amerika Selatan.

Om ‘Athallah tidak hanya mewakafkan rumahnya untuk dijadikan masjid, tapi beliau membiayai semua pekerjaan renovasi rumah itu sampai benar benar menjadi masjid yang megah. Beliau yang membeli karpet yang mahal untuk masjid itu.

Pada satu hari beliau mengatakan bahwa beliau berdo’a kepada Allah agar Allah memberikan juga pahala pembangunan masjid ini kepada saudara kandung beliau yang telah wafat sekitar setahun sebelum rumah itu diwakafkan. Saudara beliau itu pernah menasehati beliau seperti ini:

“Akhi, kita telah meninggalkan Palestina dengan tangan kosong, dalam kondisi di bawah garis kemiskinan. Kita merantau di sini, lalu Allah memberikan kepada kita rezeki yang banyak untuk kita dan keluarga besar kita. Sungguh, kita wajib bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang luar biasa ini; dan saya sangat bersedih karena di sini belum ada masjid”.

Om ‘Athallah mengatakan: “Saudara saya itulah yang pertama kali menasehati saya untuk membangun masjid. Semoga Allah memberikan pahala kepada beliau”.

Kita kagum dengan semangat da’wah Asy-Syaikh Ash-Shaifiy -Hafizhahullah- dan semoga semakin banyak orang yang seperti beliau.

Kita juga kagum kepada pewakaf yang mulia, Om ‘Athallah -Rahimahullah- yang telah mewakafkan istana beliau, harta termulia yang beliau miliki, bahkan beliau tempati dan beliau nikmati. Semoga Allah melipat gandakan pahala yang tak terputus untuk beliau, isteri beliau, saudara dan keluarga beliau.

Sungguh, dengan semangat da’wah para da’i dan kedermawanan para orang kaya, ummat Islam ini di mana saja, akan senantiasa dalam kebaikan.

Mari kita gelorakan dalam jiwa kita semangat ini; semangat da’wah dan kedermawanan. Mari kita sebarkan semangat ini kepada semua orang.

Mari kita tingkatkan cara berpikir kita, agar kita memikirkan ummat ini, memikirkam da’wah ini; dan masing masing berkorban dengan apa yang dimiliknya untuk ummat, untuk da’wah, untuk Syurga.

(Menyebarkan kisah seperti ini, bisa menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk mengikutinya; semoga menjadi tambahan amal jariyah kita. Aamiin)

Diterjemahkan oleh Saudaramu yang mencintaimu karena Allah,

Oleh: Abdul Majid bin Muhammad Al-‘Amri

Jurkam

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan