Link Banner

Pelan, tapi pasti. Begitulah, prediksi perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menurut hasil survai beberapa lembaga riset yang menghitung pergerakan elektabilitas partai politik menjelang Pemilihan Umum 2019.

Yang terbaru survai dari lembaga penelitian Indikator Politik Indonesia yang dilakukan sepanjang 16 sampai 26 Desember tentang elektabilitas partai politik. Secara lengkap hasil survai berdasarkan total suara partai dan calon dalam simulasi surat suara. PDIP memeroleh total suara 21. 6 %. Kemudian Gerindra 12.2 %, Golkar 10.7% PKB 9.3 % Demokrat 6.3 %. Selanjutnya NasDem 5.3 %, PKS 4.2 % PPP 4 %, Perindo 3.4 % dan PAN 2.7 %. Sementara itu, partai lain masih lebih rendah dukungannya, dan sekitar 16.5% belum menentukan pilihan (swing voters).



Hal tersebut menjadi penawar sedingin bagi partai Islam di tengah dominasi partai nasionalis dari pemilu ke pemilu di tanah air. Apakah PKS mampu meningkatkan perolehan suaranya di waktu yang hanya tinggal menghitung bulan ini?

Politik Identitas Menguat

Jika ditotal jumlah perolehan suara berbasis umat Islam berdasarkan survai di atas mencapai 20,4 persen. Prediksi sementara tersebut masih jauh dari perolehan suara pada Pemilu 2014 yang mencapai 34 persen.




Paling tidak ada sekitar, 14,4 persen lagi pemilih partai Islam yang belum menentukan pilihannya. Jika berkaca dari hasil survai Indikator Politik di atas, maka swing voters (pemilih mengmbang) yang 16,5 persen merupakan pemilih partai Islam yang masih wait and see, menetapkan partai Islam yang akan dipilihnya.

Asumsi bahwa pemilih mengambang tersebut didominasi oleh bakal calon pemilih partai Islam bukan tak beralasan. Ada kecenderungan politik nasional sedang mengalami penguatan politik identitas. Hasil penelitian The Economist Intelligence Unit yang dilansir bulan Desember 2018 menghasilkan tingkat kebebasan di 167 negara. Ternyata rangking demokrasi Indonesia berada pada posisi 68. The Economist mencatat skor buruk Indonesia pada isu-isu kebebasan sipil dan kultur politik, terutama menguatnya intoleransi dan politik identitas.

BACA JUGA  Langkah Kuda Buta Yusril Ihza Mahendra




Hal tersebut bukan tak beralasan. Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno atas Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Jarot sangat dipengaruhi oleh aksi damai 411 dan 212 oleh kelompok-kelompok organisasi Islam di Jakarta, maupun Indonesia. Saat itu, mobilisasi umat Islam dan kekuatan politik Islam pada aksi tersebut terbilang dahsyat. Melampaui imajinasi aktivis gerakan Islam maupun ilmuwan sosial mana pun.

Hingga sekarang, alumni aksi tersebut, meskipun sebagian ada yang berserak. Namun secara umum masih memiliki kekuatan dan kesadaran sama ingin menjadikan Islam sebagai gerakan politik. Alumni gerakan tersebut, baik secara organisasi, seperti FPI, GNPF, Persaudaraan Alumni 212, dan Pejuang Subuh, maupun secara personal mengampanyekan menolak partai yang mendukung Ahok pada Pemilu 2019.


Praktis di lapangan, sebagian besar tokoh mereka mengampanyekan PKS – salah satu partai Islam yang tak mendukung Ahok- . Tokoh-tokoh alumni 212, seperti Ketua GNPF Yusuf Martak, Ketua FPI Habib Riezek, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif, dan berbagai tokoh lain terang-terangan mendukung PKS.

Meskipun, ada partai Islam lain, seperti PAN dan PBB yang tak mendukung Ahok pada Pilgub Jakarta, namun idiologi PKS yang secara transparan menetapkan Islam dan lebih solid di bandingkan partai islam lain, membuat partai pimpinan Shohibul Imam ini bakal mendapat limpahan suara dari alumni 212 yang membutuhkan saluran politik.

Masa Sulit yang Menjanjikan

Di satu sisi persoalan internal PKS yang sedang bergejolak memang membawa dampak negatif, yaitu berkurangnya kader PKS. Namun di sisi lain berdampak positif juga bagi perkembangan partai, apalagi kalau dikelola dengan profesional.

Mundurnya sebagian kader yang membentuk organisasi baru bernama Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) seolah menjadi obor penerang bagi soliditas partai. Ibarat proses pencernaan, yang ke luar dari tubuh PKS merupakan ampas, yang jika tidak dibuang malah bisa merusak sistem tubuh.

BACA JUGA  Penembakan di LP Sleman bukan oleh Tentara, Tapi...

Selama ini, lambatnya perkembangan PKS di belantika perpolitikan nasional menurut hemat saya karena struktur di isi oleh kader-kader yang memiliki misi dan visi yang berseberangan dengan partai. Sekarang, gerakan PKS malah lebih cepat karena kader yang tersisa memilki loyalitas kepada pimpinan PKS.



Program-program pemenangan PKS, seperti kampanye dalam bentuk flash mop, direct mop, direct selling, aksi sosial dan sosialisasi caleg malah makin gencar dilaksanakan. Meskipun secara kuantitas kader malah berkurang. Hampir setiap hari, khususnya hari ahad kader-kader PKS terlihat bergerak melakukan beragam aksi kampanye simpatik.

Seorang Associate Professor dari Australian National University (ANU) Gregory Fealy malah menilai PKS merupakan partai yang unik. Peneliti yang telah 20 tahun meneliti tentang PK(S) menjelaskan PKS mewakili fenomena Islam di Indonesia yang sangat layak untuk dikaji karena di bawah kepemimpinan presiden Mohamad Sohibul Iman, PKS memiliki pola untuk memperjuangkan idealisme mereka yang cukup khas. Jadi, meskipun terjadi eksodus kader ke organisasi lain tak membuat soliditas dan militansi kader hilang, malah semakin menguat. Beliau memprediksi PKS bakal mendapat suara signifikan pada Pemilu 2019.

Oleh sebab itu, dalam kurun waktu tiga bulan menjelang pemilu, potensi PKS menggelembungkan perolehan suaranya menjadi dua kali lipat, besar kemungkinan terjadi. Apalagi, pada Pemilu 2019 ini, PKS mempunyai dua produk yang dijadikan modal menggaet suara pemilih, khususnya umat Islam. Pertama, membebaskan pajak kendaraan bermotor dan SIM (Surat Izin Mengemudi) seumur hidup. Kedua, Rancangan Undang-Undang Perlindungan Ulama.

Ketika partai lain masih belum mempunyai produk yang bakal diperjuangkan ke tengah rakyat kala kampanye Pemilu, partai ini berusaha tampil lebih baik dengan menjual produk yang kelak dapat diukur oleh konstituen ketika menduduki bangku legislatif. Hal ini menandakan, partai ini berusaha mempersiapkan diri lebih baik dari pemilu sebelumnya demi Indonesia yang lebih baik. Semoga.

BACA JUGA  Analisis Cyber Troops Desember 2018: Jokowi vs Prabowo

Oleh Arfanda Siregar, Pengamat Sosial dan Politik/Kandidat Doktor UNP

Jurkam

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan