Setidaknya Rama Pratama Mengajarkan Bagaimana Menjadi Kecebong Sejati

Link Banner

“Kuburkan aku dilautan, bersama pada leluhurku yang melompat dari kapal, karena mereka tahu mati lebih baik daripada dikurung”

Kalimat diatas diucapkan oleh Erick Kilmonger, rival T’Challa (Raja Wakanda) di film Black Phanter, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya usai perkelahian yang menguras keahlian dan tenaga.



Akhirnya T’Challa berhasil merebut kembali tahtanya sebagai Raja Wakanda yang direbut Erick secara paksa karena sebagai keturunan Wakanda dari ibu yang berasal dari bumi. Dia sakit hati atas hukuman mati yg diberikan kepada bapaknya yang asli Wakanda.

Sebelumnya T’ Chala menawarkan pengobatan atas luka yg di alami Erick di detik-detik sebelum dia menghembuskan nafasnya. Namun Erick memilih untuk mati dan dikubur dilautan daripada hidup terkurung selamanya di Wakanda.

Walau sekedar Film, tapi ungkapan di penghujung film tersebut penuh dengan makna. Ungkapan seorang yang menyadari posisi dirinya, dan bertindak secara gentle atas pilihan yang dia putuskan.

Tulisan ini terinspirasi oleh penampilan Rama Pratama disalah satu stasiun televisi paska dirinya menjadi Tim Kampanye Nasional Jokowi- Ma’ruf. Siapa yang tidak kenal Rama Pratama, yang dimasa Reformasi adalah ketua BEM UI yang berkontribusi menumbangkan rezim Soeharto bersama ribuan mahasiswa lainnya.

Dan hari ini kita melihat Rama Pratama mengambil sikap prakmatisnya sebagai politisi ketimbang sebagai ekonom yang memang spesialisasinya dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Maaf saya gunakan diksi kecebong utk menjelaskan sikap pro pemerintah, bukan sebagai penghinaan kepada yang bersangkutan.



Sejujurnya saya kagum dengan sikap Rama Pratama yang berani menegaskan keberpihakannya. Setidaknya demikian yang saya lihat jika dibandingkan dengan manuver GARBI yang sarat retorika soal Arah Baru tapi malu-malu mengakui kalau pilihan mereka sebenarnya sama.

BACA JUGA  Prabowo Subianto, "What Is To Be Done": Catatan atas Pidato Prabowo

Kita kesulitan melihat sikap gentlemen GARBI seperti yang Rama Pratama tunjukkan. Jalan memutar lagi mendaki yang GARBI tempuh hanya upaya mengelabui pendukungnya yang terlanjur melihat GARBI laksana rumah ideal yang sarat dengan idealisme perlawanan (oposisi). Maklum terbentuknya juga dilatarbelakangi sikap melawan aturan dan keputusan Partai.

Kehilangan integritas yang dilakukan beberapa tokoh akibat pilihan politiknya lumrah terjadi. Ini pun masih sedikit terobati dengan sikap fanatiknya terhadap tokoh atau partai yg mereka bela. Sebut saja Ali Mukhtar Ngabalin yg sedikit fenomenal. Setidaknya masyarakat tahu dia konsisten dengan ketidakkonsistenan.

Namun yang GARBI tunjukan adalah perilaku politik paling rendah dalam kasta demokrasi. Menuduh PKS sebagai pro Jokowi dengan maksud membuat Kader membenci dan keluar dari PKS kemudian beralih mendukung GARBI adalah cara-cara pengecut yang hanya dilakukan para pecundang.

Dan hari ini tak terbantahkan, merekalah sebenarnya yang mendukung Jokowi. Statemen ambigu sering mereka tampakan. Malu-malu mengakui tapi gesture politiknya mendukung petahana. Bahkan Rama Pratama sendiri konon adalah kader GARBI UI walaupun diklaim tidak ada dalam struktur kepengurusan pusat maupun wilayah.

Jiwa ksatria memang tidak sembarang orang bisa memiliki. Jiwa ksatria milik para idealis dan bukan pragmatis. Terlepas ada dipihak mana mereka hari ini. Mereka berani mengakui sikap dan pilihan politiknya walaupun salah. Mereka rela direndahkan dan bersedia baku hantam selama tujuannya belum tercapai. Tidak ada sikap banci dan mendua demi cita-cita.



Namun sebaliknya, mereka yang berjiwa pecundang tidak akan memiliki integritas, tidak akan dikenang dan mudah terlupakan. Walaupun selama hidupnya penuh dengan pemberitaan dan manuver yang sensasional. Garbi harus mengkoreksi sikap politiknya jika ingin dianggap organisasi besar yang akan membawa Indonesia ke peringkat 5 besar dunia.

BACA JUGA  Surat Terbuka Seorang Pelajar kepada Menteri Pendidikan Nasional

Hari ini masyarakat mudah menilai siapa yang bekerja siapa yang pandai bicara. GARBI berpotensi kehilangan potensinya jika hanya sibuk berkomentar perihal rumah lamanya. Kemampuan para tokohnya mendadak kerdil dengan semua analisa subjektif yang mencerminkan sakit hatinya.

GARBI tak lebih warung kopi pinggir jalan tempat berkumpul orang dengan berbagai latar belakang yang datang menghabiskan waktu sambil menunggu kopi panas diseduh dan habis diseruput. Akan terus begitu jika tidak membawa percakapan mereka ke wilayah kerja nyata. Minimalnya mendeklarasikan sebagai tim kampanye Jokowi dan mulai bekerja.

GARBI tidak perlu membantah secara berapi-api masukan kubu manapun dan tidak perlu berpagi-pagi membela diri. Ingin mengesankan sebagai organisasi modern yang terbuka dan open mind tapi emosionalnya lebih dominan ketimbang intelektualnya.

PKS tidak pernah khawatir dan tidak mungkin menyalahkan GARBI apabila perolehan suara PKS di pileg 2019 menurun. Pertama, karena itu tidak akan terjadi, kedua, karena GARBI bukan entitas yang layak diperhitungkan secara prosentase untuk dijadikan kambing hitam.

Kader PKS hari ini sangat sibuk dengan pendistribusian dan pemasangan logistik pemenangan didaerah masing-masing guna menyukseskan perolehan suara PKS se-Indonesia. Kita tidak pernah lelah bekerja dan tidak pernah berharap kecuai kepada kader sendiri. Termasuk dana-dana pembelian atribut dan operasional kampanye.



Kalaupun ada yang sedang sibuk ngurusin orang lain, paling cuma saya yang gerah melihat GARBI yang kegenitan nyari perhatian dan berasa kembang desa yang diperebutkan banyak kumbang. PKS sudah teruji, jam terbang jadi saksi. Kalau GARBI sangat membenci, mungkin karena mereka ngga percaya diri dan selalu emosi. Loe gw End

Oleh. Eep Fahrudin

Penulis pemerhati perilaku hipokrit

Jurkam

Tulis Komentar

3 KOMENTAR

  1. Analisis yang cemerlang… Harusnya dibaca oleh para garbiers…. Tapi sy masih jaga perasaan mereka…

  2. … [Trackback]

    […] Find More Informations here: blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/setidaknya-rama-pratama-mengajarkan-bagaimana-menjadi-kecebong-sejati/ […]

Tinggalkan Balasan