Anatomi Perpecahan Islamis di Turki. Bagaimana Indonesia?

2019 pks menang
Link Banner

Selepas dari penjara, Recep Tayyip Erdogan konon mendatangi Necmetin Erbakan untuk menasehatinya agar mengubah pendekatan politik Islamis. Namun sang Hoca tidak bergeming dengan saran muridnya tersebut. Benih ketidakpuasan mulai menjalar dalam nadi dirinya dan kelompok muda dalam tubuh Mili Gurus.

Rupanya anjloknya suara Fezilat Parti (FP) menjadi momentum semakin kerasnya suara kelompok muda tersebut. Perolehan suara FP yang merupakan metamorfosis Refah Parti dari 22 persen dalam pemilu 1995 menjadi 16 persen memukul mereka secara psikologis.

Ada 3 faktor yang mendorong “kekalahan” FP, satu faktor eksternal, permusuhan militer terhadap kelompok Islamis dan dua faktor internal yang merupakan kelemahan Islamis, pertama, kepemimpinan intervensionis Erbakan walau tidak secara formal memegang kendali Islamis dan kedua, perpecahan internal yang merusak kredibilitas Islamis.

Pasca pemilu, dibawah prakarsa Abdullah Gul, lima tokoh muda AKP menyatakan mundur dari posisi kepemimpinan FP dan secara terbuka menantang kepemimpin Recai Kutan. Saling lempar tuduhan dilakukan kedua belah pihak hingga menjelang muktamar partai. Kubu Erbakan menuduh kelompok muda tidak hanya berkompromi namun juga bersekutu dengan kubu sekuler, sebaliknya kubu Erdogan membantah bahwa model kepemimpinan Erbakanlah yang menyebabkan kemerosotan Islamis di mata rakyat.



Puncaknya, dalam muktamar partai, Kutan sukses mengalahkan Abdullah Gul dengan perolehan suara 633 versus 521. Ada upaya rekonsiliasi memang pasca kemenangan Kutan, karena kubu Erdogan masih melihat “positif” naiknya Recai Kutan, tokoh muda yang diasumsikan reformis. Namun, rupanya kedua kubu memiliki interpretasi yang berbeda tentang sosok Kutan. Bagi Erdogan dan sekutunya, mereka melihat ada harapan reformasi dalam tubuh FP, namun sebaliknya di kubu Erbakan, justru melihat sebagai jendela kesempatan (windows of opportunity) kembalinya sang Hoca dalam panggung politik.

BACA JUGA  Bukan di Negeri Dongeng, Tukang Urut Ini Terpilih Sebagai Wakil Rakyat

Kekalahan kelompok Abdullah Gul menjadi jalan terakhir mereka sebelum akhirnya memutuskan berpisah dan mendirikan partai baru. Seperti gayung bersambut, Juni 2001, Mahkamah Konstitusi membubarkan FP karena dituduh sebagai “focal point” radikalisme Islam. Pembubaran FP menjadi titik pisah kedua belah kubu. Kubu Erbakan membentuk partai baru, Saadet dan kubu Erdogan membentuk AKP. Keduanya memiliki kesempatan 1 tahun untuk bertarung dalam pemilu 2002.

Hany saja, sebagian kalangan Islamis yang tidak puas di Indonesia salah memahami dan menerjemahkan eksistensi AKP sebagian besarnya ada dalam elemen pragmatismenya. Padahal, publik Turki lebih mengenal AKP karena tokoh dan jejak rekamnya, Partai ini didominasi kelompok muda Islamis, profesional. Mereka menjadikan sosok Erdogan, mantan walikota Istanbul yang sukses sebagai pemimpin dan ikon politik mereka.



Dan penamaan AK Parti, yang dalam bahasa Turki berarti partai yang “bersih” dan “putih” semakin menegaskan preferensi, dukungan dan sekaligus harapan politik rakyat Turki yang jelas tidak dapat dibantah terkoneksi dengan sepak terjang masalah lalunya yang dianggap positif.

Lantas dimana elemen pragmatismenya? saya kira ada di dua terobosan penting AKP, yang dianggap tabu bagi kalangan Islamis:

Pertama, kesiapan partai itu untuk menerima konstruksi sekularisme Turki. Untuk itu, AKP memakai pendekatan sekularisme Anglo Saxonis, sebagai kebijakan politik non prefensial, bukan sebagai way of life.

Kedua, kesiapan AKP menjadikan Turki sebagai anggota Uni Eropa. Terbukti kemudian, jika kesiapan Turki pada akhirnya lebih menjadi problem bagi Eropa ketimbang bagi Turki sendiri. Karena penolakan keanggotaan Turki justru datang dari negara-negara utama Eropa dan Vatican.

Sebagai sebuah anatomi, kebangkitan AKP jelas ada jejak rekamnya yang dapat dibaca. Sekalipun menyakitkan, namun proses, jejak, jalan dan arahnya dapat diikuti sebagai sebuah positioning sejarah.

BACA JUGA  Gak Main-Main, Ternyata Kader PKS Memimpin 62 Juta Penduduk Indonesia



Bagaimana dengan di Indonesia?

Ada organisasi baru yang didirikan oleh kalangan Islamis yang tidak puas. Organisasi itu diduga kuat akan bermetamorfosis menjadi partai politik dan sedang menunggu momentumnya.

Namun maaf, saya pribadi belum melihat jelas “jenis kelamin” organisasi, narasi dan tokoh-tokohnya. Namun di sebalik itu, saya justru mencium aroma politik Jawa dalam kemelutnya. Kehadirannya menimbulkan komplikasi internal.

Dalam hemat saya, untuk mendirikan organisasi yang kontributif, anda harus memiliki keputusan dan argumentasi yang solid.

Wallahu alam.

Oleh Ahmad Dzakirin

Jurkam

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan