BUYBACK INDOSAT JANGAN SEKEDAR WACANA

Link Banner

Anda tahu sembilunya? Jabang Telkomsel lahir di Batam 1994 sejatinya dirancang guna menghalau sinyal masuk dari “utara”. Tapi ia terhadang di sana, malahan “tembus” di jantung Jakarta.Oh my God. It’s a pity, but that was a real life!

Cuaca mendung gerimis rinai di 28 Maret 2019. Saat melintas di depan gedung Jl. Medan Merdeka Barat No.21 saya terhenyak dan terpana. Ada bendera merah putih besar menaungi bangunan tinggi itu. Sementara gemerecik air mancur yang menari terdengar lamat-lamat, melagukan potongan syair perjuangan “mari bung rebut kembali”.

Saya baru tersadar ketika mobil di belakang membunyikan klaksonnya, lampu hijau lalu lintas telah menyala. Kiranya lamunan saya menyirap halusinasi jiwa, seakan Indosat telah kembali. MasaAllah….

Selama dua tahun (2000-2002) saya pernah bertugas sebagai Direksi di sana. Saya tak akan melupakannya, apalagi saya yang memulai dan memberi nama IM3 pada produk selulernya. Setelahnya, saya ditugaskan sebagai Direksi di Telkom dan kembali ke arena untuk berkompetisi balik dengan Indosat. Saat itu, kami dua BUMN, “the two giants”, bersaing namun bersanding.



Panas itu tentu ada apinya. Asap yang berembus, terasa mulai nenyesakkan. Tahun 2002 sesuai “kondisi perekonomian negara” , Pemerintah menjual 41,9% saham Indosat ke STT Singapore; sementara Publik memiliki 43,06% dan RI 15%.
Tahun 2008 kepemilikan asing mulai berubah dan sejak tahun tahun 2009 Qatar Telecom menguasai saham 65%, Publik 20,71% dan RI 14,29%; sampai sekarang.

Ketika Pak Jokowi-JK pada debat capres 22 Juni 2014 berjanji untuk mem-buyback saham Indosat, komunitas telekomunikasi Indonesia menyambut amat gembira. Karyawan/wati, pensiunan dan alumni Indosat senang alang kepalang. Semua bangga dan rasa nasionalisme bangkit menghentak; hati masyarakat pun bergelora, ada sang saka berkibar luar biasa.

BACA JUGA  Bagaimana Valuasi Gojek & Gopay Bisa Kalahkan Garuda?

Lima tahun berlalu, janji itu berlalu bak bunga rindu. Namun kini, “cinta lama bersemi kembali”. Cawapres Sandiaga Uno tanggal 20 Maret 2019 kemarin mewacanakan ulang tentang buyback Indosat. Kita tak tahu apa yang ada di benak Sandi, bagaimana strategi dan dari mana uangnya. Tapi sebagai pengusaha yang sukses dan pribadi yang teruji integritasnya, rasanya ia tidak bicara asal bunyi seenaknya.



Pilpres tinggal dua minggu lagi, waktu jua yang akan membuktikan siapa juaranya. Gedung tinggi nan megah di ring satu Jakarta itu, sejak 2015 telah berganti menjadi Indosat Ooredoo, namanya. Dari sana, dulu banyak eksekutif handal dilahirkan; entahlah sebab apa, sekarang sepi nyaris tak terdengar lagi kiprahnya.

Banyak orang terlena, mengira bahwa tahun 2002 telekomunikasi Indonesia hanya kehilangan saham di Indosat saja. Saya mengingatnya. Ketika kembali ke Telkom, hati ini justru pilu dan kecewa, karena berharap saham PTT Belanda di Telkomsel yang 22,5% akan kembali ke pangkuan Telkom tercinta.

Lain mimpi lain pula kenyataan. Saham ex Belanda ternyata adalah Singtel yang membelinya, bahkan bertambah menjadi 35%.

Anda tahu sembilunya? Jabang Telkomsel lahir di Batam 1994 sejatinya dirancang guna menghalau sinyal masuk dari “utara”. Tapi ia terhadang di sana, malahan “tembus” di jantung Jakarta.
Oh my God. It’s a pity, but that was a real life!



Kita semua adalah penentu siapa presiden Indonesia kelak. Sampaikan padanya, kita akan dukung upaya menumbuhkan ekonomi Indonesia. Setelahnya, pertimbangkan langkah disruptif, manakah yang akan di-buyback; yang “65” atau “35”?
Semoga kali ini nyata, karena itulah hakekat gedung tinggi kedaulatan telekomunikasi seluler Indonesia.

Mendung belum berlalu, lembayung merah putih masih merona. Di langit Nusantara ada pesan buat kita: Jayalah seluler Indonesia!

BACA JUGA  DINI SHANTI – "Aku tidak lebih pintar, aku hanya hanya lebih dahulu tahu..."

Salam, Garuda (mantan BOD Telkomsel dan Indosat BUMN)





Jurkam

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan