Kualat-isme Ken Arok

ken arok
Link Banner

Ken Arok adalah sosok berandalan yang digambarkan pribadi culas untuk mendapatkan kekuasaan. Ia membunuh Mpu Gandring si pembuat kerisnya. Menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung dengan cara membunuh si suami raja Tumapel, TungguL Ametung. Ia lalu secara licik mejadikan sahabatnya sendiri Kebo Hijo sebagai kambing hitam dan dihukum mati.

Ken Arok lalu merebut Tumapel dan mendirikan kerajaan Singosari.

Ken Arok mati oleh kerisnya sendiri, dibunuh oleh Anusapati, anak yang ia besarkan sejak lahir.

Oleh Jaya Suprana



SAYA berterima kasih kepada mahaguru data saya, Christanto Wibisono karena beliau menggugah hasrat saya untuk berupaya mempelajari kisah Ken Arok.

Tunggul Ametung

Ken Arok adalah seorang anak muda berandalan yang menjadi kepala perampok ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.

Pada suatu hari Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau pria berandalan ini adalah orang yang dicarinya. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung, penguasa Tumapel sebagai daerah bawahan Kerajaan Kadiri.

Ken Arok tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik jelita. Ia berhasrat membunuh Tunggul Ametung demi merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.

Untuk menjalankan siasatnya, ia membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan memperkenalkannya pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang, sekarang Plumbangan, Doko, Blitar yang tersohor sebagai pembuat pusaka ampuh.

Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke Mpu Gandring sampai tewas.

BACA JUGA  Nggak Jadi Lomba Ngaji

Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan kualatisme bahwa keris itu nantinya akan membunuh pemiliknya sendiri.


Licik

Selanjutnya Ken Arok menggunakan kelicikan untuk merebut kekuasaan Tumapel. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo.

Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh atasannya.

Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan pemuda berandalan ini. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.

Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap di dada Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung yang kemudian diberi nama Anusapati.


Kerajaan Tumapel

Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana. Para brahmana memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri.

Setelah mendapat dukungan mereka, ia pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri.

Kertajaya (dalam Pararaton disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel. Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Dewa Siwa. Mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun mengaku dirinya sebagai titisan Dewa Siwa dan siap memerangi Kertajaya.  Akhirnya Kadiri kalah.


Anusapati

Anusapati merasa Ken Arok  menganaktirikan dirinya, padahal ia adalah putra tertua di antara sekian banyak anak ayahnya. Setelah mendesak ibunya (Ken Dedes), akhirnya Anusapati mengetahui dirinya memang benar-benar anak tiri bahkan ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh ayahnya yang selama ini membesarkannya.

BACA JUGA  Politik Tanpa Agama: Rakyatnya Harus Atheist Atau Komunis

Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya membunuh ayahnya, tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari.

Anusapati membunuh pembantunya itu demi menghilangkan jejak.

Naskah Pararaton menyebutkan bahwa peristiwa kematian tersebut kualat ditikam keris yang digunakan Ken Arok untuk membunuh Mpu Gandring kemudian Tunggul Ametung terjadi pada tahun 1247 M (1169 Ç).


Kualatisme

Berbagai pihak menduga nama Ken Arok merupakan ciptaan penggubah naskah Pararaton demi menokohkan sang pendiri dinasti Rajasa yang menurunkan para raja Singhasari dan Majapahit sebagai putra Brahma, titisan Wisnu, serta penjelmaan Siwa, sehingga seolah-olah kesaktian Trimurti berkumpul dalam dirinya.

Saya pribadi tidak berani melibatkan diri ke dalam polemik tentang legenda-atau-bukan-legendanya Ken Arok, namun hanya memberanikan diri memetik hikmah kearifan Das Sollen dari kisah ini bahwa sebaiknya para penguasa jangan menggunakan kelicikan dalam upaya memperoleh kekuasaan agar jangan sampai terkena dampak kualatisme.[]

Penulis pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan





Jurkam

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan