Garbi, Manifestasi Keculasan Fahri – EfHa (3)

Fahri GarbiKetigapuluh satu, tadinya saya enggan untuk membuka lagi tentang EfHa dan prilakunya, saya mau berdo’a mudah2an dia bisa sadar secepatnya. Tapi mereka kasih kunci utk membukanya.

Ketigapuluh dua, Sebenarnya, kalau EfHa masih ada cinta atau setidaknya, masih berharap ada kapitalisasi kebaikan terhadap apa yg sudah dilakukannya selama ini di PKS, maka dia harus menghentikan konflik dan permusuhan ini.

Ketigapuluh tiga, Fahri yang memulai, Fahri yang harus mengakhiri, dia yang memantik api, maka dia pula yg harus menyirami.

Ketigapuluh empat, walau garbi bukan hanya EfHa, tetapi EfHa adalah kuntji, AM dan yg lain tidak punya nyali dan keberanian diri utk deklarasi.

Ketigapuluh lima, mengapa EfHa berani melawan, karena dia menyadari bahwa dia adalah punakawan, apa yg diucapkan, apa yg dilakukan selalu menjadi cerita dalam berita.

Ketigapuluh enam, EfHa mungkin lupa bahwa hal itu hanya sementara, banyak “artis” sebelumnya yg begitu populer, tetapi sekarang seperti hilang dimakan uler.

Ketigapuluh tujuh, Poltak Raja Minyak, harusnya menjadi catatan EfHa dalam mengambil keputusan utk berkonflik, kini namanya nyaris tak terdengar, padahal beberapa tahun yg lalu, siapa yg tak kenal si lae itu.

Ketigapuluh delapan, sikap salah ambil keputusan, bukan saja menghancurkan karir politik yg sudah di bangun tahunan, tetapi menyebabkan putusnya tali silaturahmi.

Ketigapuluh sembilan, Belum pernah PKS dan partai manapun di Indonesia, mengalami kondisi seperti sekarang ini. Kader dan mantan kadernya, saling hina.

Keempat puluh, dahulu pernah satu lingkaran kini saling melempar sindiran, dahulu sering mengunjungi kini saling mencaci, dahulu saling bahu membahu kini saling menjauh.

Keempatpuluh satu, Elit-elit garbi terutama yang didaerah, sudah tidak ada rasa malu untuk mencaci dan memaki pimpinan PKS, sudah tidak ada rasa hormat sedikitpun, seperti tidak pernah mendapatkan materi tentang akhlaq dan kesopanan.

BACA JUGA  Ijtihad Qiyadah dalam Timbangan Fiqh Muamalah

Keempatpuluh dua, EfHa harus berani menghentikan konflik ini, dia harus mulai dari dirinya sendiri.

Keempatpuluh tiga, Pejuang sejati bisa menghentikan konflik ini, kecuali dia seorang pecundang yang akan mati diujung peti yang hanya ditangisi oleh keluarga sendiri, dan lagi-lagi penyesalan tiada arti.

Keempatpuluh empat, Kita harus apresiasi keputusan Pimpinan PKS yang tidak mengacuhkan setiap “serangan” EfHa. Cara terbaik ini bukan saja efektif mengkarantina virus, tetapi juga meminimalisir kerusakan.

Keempatpuluh lima, manajemen konflik ini oleh “Malin Kundang” dianggap pembangkangan terhadap hukum. Dasar ANAK SONGONG kata orang Betawi!

 

Catatan, Video ini sudah tersebar di YouTube, dari video ini dapat disimpulkan, Konflik ini bermula dari KEBOHONGAN Fahri dihadapan KMS PKS.

Oleh Tengku Johan

Post Author: masawep

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan