TAHUN Baru Sultan AGUNG

DIA memerintah sebuah kerajaan besar dengan proses dakwah yang masih jauh dari usai. Nun di pesisir, syiar Islam mulai semarak. Nun di pedalaman, pengaruh era lama masih terasa kental. Salah satu penanda pentingnya adalah kalender.

Tahun baru Islam Jawa

Di pesisir, orang memakai almanak hijriah yang berdasar perhitungan bulan. Di pedalaman, penanggalan Saka yang berdasar peredaran matahari tetap kokoh, selisihnya 78 tahun lebih belakang dari tahun Masehi yang digunakan orang Belanda.

Maka pada hari Jumat Legi, 8 Juli 1633 Masehi itu, Susuhunan Agung Hanyakrakusuma membuat keputusan bersejarah. Tahun Saka 1555 tetap dilanjutkan angkanya. Tapi perhitungannya diubah dari Syamsiyah menjadi Qamariyah, ditepatkan menjadi Tahun Alip. Tahun baru tanggal 1 Sura bertepatan dengan 1 Muharram 1043 H. Kalender baru ini menjadi tanda persatuan.

Satu tahun dalam Kalender ini memiliki umur 354 3/8 hari. Untuk itu terdapat siklus delapan tahun yang disebut sebagai windu. Dalam satu windu terdapat 8 tahun yang masing-masing memiliki nama tersendiri; Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir memiliki umur 355 hari dan dikenal sebagai tahun kabisat (Taun Wuntu), sedang sisanya 354 hari dikenal sebagai tahun pendek (Taun Wastu). Pada tahun Wastu, bulan Besar sebagai bulan terakhir berumur 30 hari.

Selain itu, terdapat siklus empat windu berumur 32 tahun di mana nama hari, pasaran, tanggal, dan bulan akan tepat berulang atau disebut tumbuk. Keempat windu dalam siklus itu diberi nama Kuntara, Sangara, Sancaya, dan Adi. Tiap windu tersebut memiliki lambang sendiri, Kulawu dan Langkir. Masing-masing lambang berumur 8 tahun, sehingga siklus total dari lambang berumur 16 tahun.

Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu tahun Jawa diberi tambahan satu hari. Periode 120 tahun ini disebut dengan khurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat khurup; Khurup Jumuwah Legi/Amahgi (1555 J-1627 J/1633 M-1703 M), Khurup Kemis Kliwon/Amiswon (1627 J-1747 J/1703 M-1819 M), Khurup Rebo Wage/Aboge (1867 J-1987 J/1819 M-1963 M), dan Khurup Selasa Pon/Asapon (1867 J-1987 J/1936 M-2053 M).

Nama khurup yang berlangsung mengacu pada jatuhnya hari pada tahun baru tanggal 1 bulan Sura tahun Alip. Pada Khurup Asapon, tanggal 1 bulan Sura tahun Alip akan selalu jatuh pada hari Selasa Pon selama kurun waktu 120 tahun.

Siklus harian yang masih dipakai sampai saat ini adalah saptawara (siklus 7 hari) dan pancawara (siklus 5 hari). Saptawara, atau padinan, terdiri dari Ngahad (Dite), Senen(Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kemis(Respati), Jemuwah (Sukra), dan Setu(Tumpak). Pancawara terdiri dari Kliwon (Kasih), Legi(Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan). Pancawara juga biasa disebut sebagai pasaran. Siklus ini dahulu digunakan oleh pedagang untuk membuka pasar sesuai hari pasaran yang ada.

Jauh lebih kompleks dari sistem Shio Tiongkok maupun Horoskop Barat; dalam Kalender Jawa terdapat 30 Wuku yang masing-masing memiliki umur 7 hari, sehingga satu siklus Wuku memiliki umur 210 hari yang disebut Dapur Wuku. Di zaman Susuhunan Pakubuwana VII diresmikan pula penambahan 12 Pranata Mangsa sebagai pedoman pertanian dan bidang apapun yang memerlukan panduan iklim serta cuaca.

Salah seorang tenaga ahli di LAPAN pernah membandingkan Kalender Sultan Agung dengan beberapa kalender hisab dalam akurasinya terhadap Ru’yatul Hilal selama periode 50 tahun terakhir. Hasilnya, Kalender Sultan Agung justru lebih sering tepat dengan hasil Ru’yat daripada Kalender Hisab beberapa Ormas Islam sehingga direkomendasikan penggunanaannya sebagai Kalender Persatuan Ummat di Nusantara.

Selamat tahun baru, 1 Muharram 1441, 1 Sura Tahun Wawu 1953. Semoga kita semua dilimpahi berkah di setiap langkah.

Oleh Salim A. Fillah

 

Post Author: masawep

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan