BERITA TENTANG TENGGELAMNYA KAPAL KAMI

Kapal PKS

Kami masih tetap melihat ada orang-orang di dalam kapal yang berlalu lalang kian kemari, berusaha meyakinkan penumpang, bahwa kapal akan segera tenggelam.

KAMI sedang berada di sebuah kapal. Berkegiatan bersama dengan nyaman dan bahagia. Kami sangat senang berada di kapal ini.

Hingga suatu hari kami merasakan ada hal-hal asing yang sesungguhnya tidak kami pahami. Ada yang berubah namun kami tidak mengerti. Kami hanya merasakan memang ada yang berubah.

Awalnya ada beberapa orang yang berbisik-bisik kepada para penumpang, bahwa nakhoda kapal ini tidak cakap. Tidak bisa memandu arah perjalanan kapal. Lalu mereka mengatakan kapal dalam bahaya.
Semenjak ada yang berbisik-bisik tentang ini dan itu, suasana kapal memang berubah. Sungguh kami tidak tahu, tapi kami merasakan dengan nyata perubahan itu.

Dalam suasana ketidakmengertian kami, tiba-tiba kami mendengar ada beberapa orang berteriak keras, bahwa kapal akan segera tenggelam. Teriakan keras itu tentu membuat suasana panik.

Kami melihat beberapa orang tampak terus-menerus berteriak bahwa kapal akan segera tenggelam. Kami melihat banyak orang panik, sehingga mereka cepat-cepat melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.

Tanpa berpikir panjang orang-orang yang panik langsung melompat ke laut meninggalkan kapal yang konon akan segera tenggelam.

Makin lama makin banyak orang yang ikut melompat ke laut, agar tidak tenggelam bersama kapal. Mereka berenang sebisanya menuju kapal baru yang konon siap menyelamatkan mereka.

Sebagian dari mereka akhirnya mengaku sudah tiba, dan masuk di suatu tempat, yang mereka sebut sebagai kapal baru itu. Tapi sebagian yang lain tetap saja berenang karena tidak tahu mana kapal yang baru.

Sekian lama orang-orang ini berenang, sambil melihat ke arah kapal yang dikabarkan akan segera tenggelam. Namun kapal itu tak juga tenggelam.

Jangankan tenggelam, bahkan oleng pun tidak. Sebagian mulai ragu jangan-jangan informasi itu keliru. Nyatanya kapal itu tetap tenang melaju.

Kami melihat di atas kapal tetap ada orang-orang berteriak bahwa kapal akan segera tenggelam. Kami melihat pula tetap ada orang-orang panik yang melompat ke laut.

Kami juga melihat orang-orang kebingungan, karena ragu-ragu untuk ikut kapal baru. Karena, kata mereka yang ragu, wujud kapal baru itu adalah semacam mimpi atau ilusi.

Sementara mereka sudah terlanjur melompat ke laut, namun tak juga segera melihat wujud nyata kapal baru yang dijanjikan itu. Makin lama makin ragu.

Sebagian dari penumpang memilih tetap di kapal sambil melihat situasi dan kondisi. Jika kapal benar benar tenggelam tentu akan ikut menyelamatkan diri. Entah kemana. Tapi nyatanya kapal yang kami tumpangi ini tidak juga tenggelam. Bahkan tak ada tanda-tanda yang nyata bahwa akan segera tenggelam seperti yang diteriakkan orang-orang itu.

Kami melihat nakhoda dan para awak kapal mencoba menenangkan penumpang. Nakhoda mengatakan, kita akan terap meneruskan perjalanan. Dan kapal memang tetap berjalan. Tidak tenggelam. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan segera tenggelam.

Kami melihat satu dua orang yang lelah berenang dan memutuskan kembali ke kapal induk. Para awak kapal menyambut mereka dan menolong mereka untuk kembali naik ke atas kapal.

Kami masih tetap melihat ada orang-orang di dalam kapal yang berlalu lalang kian kemari, berusaha meyakinkan penumpang, bahwa kapal akan segera tenggelam.

Kami masih melihat pula penumpang yang kepanikan dan langsung melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.

Seorang penumpang tampak mendekati awak kapal. Dengan penuh ragu ia bertanya, “Jika saya ikut melompat ke laut untuk menyelamatkan diri bersama orang-orang itu, namun ternyata di sana tidak ada kapal baru yang dijanjikan, apakah saya boleh kembali ke sini? Ke kapal induk ini?”

Awak kapal menatap orang itu. Kami tidak tahu jawaban apa yang diberikan oleh awak kapal, namun kami melihat orang itu masih tampak ragu-ragu.

Yang kami tahu, kapal kami tetap melaju. Tidak tenggelam seperti teriakan orang-orang itu.

Jangankan tenggelam, bahkan kami rasakan lajunya semakin kencang, namun tetap tenang.

Sebagian dari kami memberanikan diri untuk bertanya kepada nakhoda, kenapa membiarkan saja orang-orang yang melakukan provokasi? Nakhoda menjawab, bahwa penumpang sudah tahu sendiri bahwa itu provokasi. Nyatanya kapal ini tetap tenang melaju, bahkan semakin kencang.

Nakhoda benar. Di sekitar kami, tak juga kami lihat wujud kapal baru yang dijanjikan itu. Kata mereka, memang sedang memasuki masa transisi selama setahun ini.

Tapi kapal kami tetap melaju. Ada pulau yang hendak kami tuju. Makin hari makin jelas saja pulau itu.

Kapal kami tidak tenggelam, bahkan semakin dekat dengan pulau tujuan.

Oleh Cahyadi Takariawan

Dinarasikan dari kisah jaulah Abu Zahwa dan tim.

Post Author: masawep

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan