JOKER – BUKAN FILM ANAK DAN REMAJA

Dunia tertegun dengan film JOKER, seorang tokoh penjahat psikopat, salah satu lawan berat super hero Batman, sang pelindung Gotham City, sebuah kota yang digambarkan gelap dan menyedihkan karena mengandung dua sisi kehidupan borjuis yang kaya raya dan kehidupan kumuh yang sangat miskin, akibat tingginya tingkat korupsi para pejabat pemerintahannya.

JOKER adalah penjahat paling sadis dan paling brutal yang pernah menjadi lawan Batman, dilahirkan di tengah kehidupan kota Gotham yang kelam dengan penduduk yang sama kelamnya. Kualitas psikopat JOKER sangat kuat dan manipulatif, Ia bahkan pernah dikisahkan mampu membuat terapis-nya jatuh hati, mau berkorban untuknya dengan bertransformasi menjadi penjahat baru, yang menyebut diri Harley Quinn (dikisahkan dalam film lain oleh tokoh berbeda namun sama mengesankannya)

Namun jangan sekali-sekali berharap bahwa film JOKER kali ini akan menampilkan ciri khas umumnya film super heroes lainnya, yang intinya berusaha memberikan gambaran bahwa segala kejahatan akan selalu kalah saat melawan kekuatan kebaikan dan kejujuran.

Film JOKER besutan tahun 2019 ini justru berusaha menampilkan unsur manusiawi dari seorang manusia yang mengalami gangguan kejiwaan dan terdorong perilaku menjadi jahat, namun sejahat -jahatnya dirinya Ia juga pernah menjadi manusia baik atau terlahir baik. Sesuai dengan teori John Locke bahwa manusia terlahir putih bersih bagaikan sehelai kertas putih, namun pengalaman hidupnya yang kejam telah mengubahnya menjadi jahat, berpikiran jahat dan berkepribadian jahat.

Di sisi lain dari pilihan hidup menjadi penjahat, JOKER adalah korban dari perjalanan kehidupan yang membesarkannya tanpa kehadiran seorang ayah oleh ibu yang juga memiliki masalah mental, JOKER mengalami berbagai kekerasan dan diskriminasi dari lingkungan, mengembangkan aspek kekerasan dalam dirinya, yang berdasarkan teori neuropsikologi ditandai dengan bagian CA 2 dalam hipokampus dan ukuran amygdala dalam otaknya.

Perjalanan hidup JOKER benar-benar merefleksikan dua aspek penentu kualitas diri manusia, yang digambarkan dengan istilah nature dan nurture atau aspek genetik dan pola asuh termasuk pola belajar yang paling bertanggung jawab dalam membentuk karakter seseorang.

Tetap saja “film JOKER sama sekali bukan film anak-anak dan remaja”.

Menyaksikan film JOKER, penonton diharapkan untuk tergugah dan mampu memahami bagaimana kualitas psikopatik terbentuk dalam diri JOKER, sebagai akibat dari berbagai situasi dan kondisi yang pernah dialaminya sejak kecil, mulai dari minimnya peran orang tua dan keluarga dalam masa awal kehidupan, pengabaian aspek emosional anak yang mengakibatkan ciri khas CEN (Child Emotional Negligence) dalam diri anak, penghancuran konsep diri dan harga diri, stimulasi kekerasan dan pelecehan sosial emosional dan seksual sepanjang kehidupan, sampai pola pemelintiran daya nalar (brain twisting), seorang individu secara kejam tanpa hati tumbuh dan berkembang, dibentuk oleh lingkungan untuk benar benar menjadi kejam dan kehilangan empati.

Tetap saja “film JOKER sama sekali bukan film anak-anak dan remaja”.

Dalam waktu singkat, berbagai keluhan dan protes dilontarkan, karena konon banyak orang tua yang tidak peka, tidak tahu, tidak peduli, tidak bertanggung jawab atau apapun alasannya, tetap membawa anak-anak menyaksikan film Joker. Salah siapa ?

Jelas “Joker bukan film anak dan remaja”.

Sudah seharusnya ada peringatan batas usia 17 tahun ke atas. Demikian pula dengan film Marvel Heroes lainnya, yang sebenarnya jelas-jelas ditetapkan peringatan untuk 13 tahun ke atas.

Tetapi mengapa orang lebih mudah menghujat dan menyalahkan orang lain daripada melakukan instrospeksi diri ?

Berbagai komentar dilayangkan kepada pembuat film, tokoh pemeran JP yang sukses berat memerankan karakter Joker, petugas penjaga bioskop yang membiarkan anak-anak melalui pintu masuk, sampai kepada penyelenggara bioskop dan juga kepada lembaga sensor film nasional, yang dinilai abai memperhatikan kepentingan anak dan remaja.

Sebelum kita lebih jauh memberikan penilaian yang judgemental dan provokatif kepada orang lain yang sebenarnya justru berpotensi membentuk Joker-Joker baru dalam kehidupan nyata, sadarilah bahwa saat ini sudah banyak individu menyerupai JOKER dalam kehidupan nyata yang hidup di sekeliling kita.

Bahwa kita tanpa sadar telah dan kerap ikut terlibat dan membiarkan proses pembentukan karakter JOKER di sekitar kita, dengan berbagai kesibukan dan ketidak pedulian kita, membiarkan berbagai situasi dan kondisi yang digambarkan oleh film JOKER, sebenarnya sangat mudah ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika seorang anak berjalan lunglai berangkat sekolah, ternyata baru menerima kekerasan dari orang tua atau gurunya, atau dari teman-temannya, mengalami destruksi mental, kehilangan harga diri dan manipulasi ingatan, yang sebenarnya telah membangkitkan karakter JOKER dalam diri mereka.

Jelas “Joker bukan film anak dan remaja”

Berbagai diskursus, argumen dan debat kusir sebenarnya adalah juga bagian dari strategi marketing untuk memasarkan film JOKER. Tapi yang paling penting, renungkanlah di relung hati kita yang paling dalam, sudahkah kita menjaga lisan dan sikap kita untuk memastikan agar tidak lahir Joker-Joker di sekitar kita?

Apapun bentuknya, kejahatan tidak memiliki tempat di tatanan masyarakat yang beradab dan berbudaya. Pastikan kita tidak terlibat di dalamnya.

Jelas “Joker bukan film anak dan remaja”.

Bahkan Joker juga harus memiliki peringatan lebih khusus lagi, bahwa film ini bukan ditujukan untuk para pengunjung yang sedang mengandung, lanjut usia, memiliki indikasi lemah jantung atau lemah mental.

Semakin dilarang, semakin muncul keinginan untuk menyaksikan filmnya, kan?

Dalam setiap masa pemutaran sebuah film, setiap produser dan insan perfilman pasti mengharapkan untuk dapat mendulang sukses dengan keberhasilan meraup sebanyak-banyaknya jumlah penonton dan berhasil menjadi box office. Berbagai strategi akan dilakukan untuk mendatangkan penonton, mulai dari serangkaian road show, sejumlah agenda promosi, dan berbagai resensi atau tinjauan film, baik di media formal maupun di media sosial, termasuk whatsapp group.

Berbagai aspek penting dan kontroversial akan dijadikan alat untuk dapat membuat sebuah film menjadi semakin menarik atau menggugah rasa ingin tahu untuk disaksikan.

Yang jelas, perlu juga ditekankan bahwa tidak semua orang dengan masalah kejiwaan pasti akan menjadi penjahat. Mereka justru menbutuhkan bantuan kita untuk tidak menjadi penjahat.

Sementara jika ia sudah memilih menjadi penjahat maka bersiaplah untuk menerima sanksi hukum yang berlaku, termasuk mereka yang mengaku waras namun membiarkan orang lain atau sengaja membentuk seseorang untuk menjadi seorang JOKER.

(A. Kassandra Putranto, M.Psi., Psikolog)

Post Author: masawep

Tulis Komentar

1 thought on “JOKER – BUKAN FILM ANAK DAN REMAJA

Tinggalkan Balasan