fbpx

Omar Mukhtar, Singa Padang Pasir

184

Omar Mukhtar adalah singa padang pasir
Singa mengaum di balik terali besi
Engkau tak kan melihat singa menangis merunduk.

… kami sudah 20 tahun bersama Allah bertempur melawan kalian. Dan akan terus mempertahankan negeri ini selamanya sampai ajal menjemput …

Begitulah ucapan Omar Mukhtar seorang guru madrasah di Libya di hadapan jendral penjajah Italia setelah upaya gencatan senjata tak berhasil.

Perang terus berlangsung dengan pengerahan 40.000 serdadu sampai akhirnya tentara Diktator Benitto Mussolini ini berhasil menangkap orangtua yg menjadi simbol perlawanan rakyat Libya melawan fasisme Italia.

Ditulis dalam sejarah, Omar Mukhtar dengan pengawalan yang sangat ketat dibawa ke Marfa’, sebuah kota pelabuhan, kemudian dibawa ke Benghazi. Jendral Graziani, musuh besarnya saat itu sedang berada di Roma.

Omar Mukhtar

Begitu mendengar berita tertangkapnya Omar Mukhtar, hari itu juga ia langsung kembali ke Libya dengan pesawat terbang. Ketika sampai di sana, ia segera mempersiapkan Mahkamah Militer, di bawah pimpinan Hakim Ketua Marioni. Tatkala diadili Sang Pejuang tampak gagah berani. Keputusan segera dijatuhkan. Hukuman gantung.

Mendengar putusan itu Omar Mukhtar berucap: إنا لله وإنا إليه راجعون.
Mereka mendorongnya kepada kematian, namun beliau tak gentar, tak sedih dan takut menghadapi kematian, karena ia sendiri telah berusaha lebih dari sekali untuk mendapatkannya di medan kemuliaan dan kesatriaan. Tak satupun kata yang menunjukkan kelemahan dan keraguan keluar dari mulutnya.

Dia adalah singa padang pasir
Singa mengaum di balik terali besi
Engkau tak kan melihat singa menangis merunduk.

Pagi, Rabu 16 September 1931, empat hari setelah Omar Mukhtar ditangkap, pejuang berusia 90 tahun itu dibawa ke tiang gantungan. Setelah melakukan shalat dan mengucapkan dua kalimat syahadat “لآ إله إلا الله محمد رسول الله Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah”.

Dengan langkah yang tenang dan tersenyum ia siap menghadap Khaliqnya, diiringi tetesan air mata 20 ribu rakyat Libya yang turut menghadiri kepergiannya. Insya Allah syahid di tiang gantungan.

Semoga Allah merahmati Ahmad Syauqi yang berkata untuknya:

Engkau disuruh memilih, maka engkaupun memilih bermalam dalam keadaan lapar,
Engkau tidak membangun kedudukan atau mengumpulkan kekayaan,
Sesungguhnya pahlawan mati karena kehausan, dan bukanlah pahlawan yang minum air dengan sekali tegukan

Omar Mukhtar dimakamkan di dekat pintu masuk Benghazi Timur. Pada makamnya yang sederhana terukir tulisan:

“Lambang kepahlawanan dan kesyahidan, Mujahid Besar Omar Mukhtar”

Jumadil Ula 1350 H / 16 September 1931

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More