fbpx

Lelaki Gagah Berkemeja Putih di Kota Wuhan

0 778

Di Kota Wuhan, lelaki itu berjalan lurus. Langkahnya mantap, mungkin karena sepatu kets hitamnya. Lelaki ini berjalan cepat, gagah mendahului rekan-rekannya yang ntah atas komando siapa melambatkan diri. Sejurus kemudian, beberapa lelaki berkamera tampak menyebar.

Lelaki ini bukan lelaki biasa, ia patriot sejati. Seolah tak ada kesan takut di wajahnya saat Wuhan dilanda wabah virus Corona yang mematikan. Gagah perkasa tak bermasker, seolah mengabarkan pada dunia yang sedang dihadapi adalah masalah kecil. Terlalu mudah ia selesaikan, tentu jika ia terpilih sebagai walikota Wuhan.

Di antara tumpukan mayat warga Wuhan yang terinfeksi virus Corona, lelaki itu melayangkan pandangan nanar. Para lelaki berkamera pun mulai sibuk, mencari tempat yang terbaik. Tentu dengan sudut kamera yang tepat, agar momen ini terekam hebat.

Sudut matanya seolah berbicara pada alam, agar bencana ini segera berakhir. Mulutnya sebentar terlihat berkomat-kamit. Mungkin berdoa. Atau dia sedang memberi komando, ntah kepada siapa. Tidak ada siapapun di sekitar dia. Yang terdekat dengannya hanyalah para lelaki berkamera, itu pun berjarak 3-4 lemparan tombak.

Sebentar ia berhenti. Para lelaki berkamera semakin menggila. Kilatan lampu blitz membuat siang itu semakin menyilaukan. Suara cekrekan kamera-kamera bahkan terdengar hingga membuat rekan-rekan rombongannya di belakang terhenyak. Tidak ada yang komando. Tadi mereka masih saling bersenda, mendadak hening.

Sang lelaki berkemeja putih itu menunjuk ke arah yang tak jelas. Lengan panjang kemejanya yang digulung itu terlihat jelas. Tidak ada yang mencoba mencari tau, apa yang ditunjuk lelaki ini. Tapi yang pasti, para lelaki berkamera seperti kesetanan. Bergiga-giga memory mereka muntahkan agar momen ini tidak terlewatkan. Berbagai gaya mereka lakukan, hanya untuk mendapatkan sudut yang tepat. Beberapa memilih rebahan, tepat di antara para mayat. Sebagian lagi kreatif, menumpuk mayat-mayat itu agar mendapatkan pemandangan yang dramatis.

Esoknya, hasil jepretan para lelaki berkamera ini menyebar luas. Semua media dengan semangat berapi-api menulis ulang pengalaman fenomenal ini. Stasiun-stasiun televisi mengulang-ulang rekamannya. Pemirsa pun takjub.

Semua beradu cepat, bahkan tentang sepatu kets lelaki yang kotor terinjak mayat pun tak luput diulas. Semua teori jurnalistik tumpah ruah hari itu.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More